Kamis, 30 April 2015

Pengusaha Sukses : Bob Sadino



                Anda tentu tahu salah satu wirausahawan sukses di Indonesia ini. Bob Sadino, ia dilahirkan di Tanjung Karang Lampung pada tanggal 9 Maret 1933 dari pasangan orang Jawa yang hijrah ke Sumatera dengan nama lengkap Bambang Mustari Sadino. Pada tahun 1934 ia harus mengikuti orang tuanya pindah ke Jakarta. Bapaknya, Sadino adalah seorang guru dan kemudian menjadi kepala sekolah. Bob kecil hidup dalam kecukupan, tidak seperti bocah Hindia Belanda kebanyakan yang kurang makan dan kurang kasih sayang. Sejak kecil itu lah, Bob Sadino sudah bergaul dengan anak-anak keturunan China. Pada zaman penjajahan Belanda, orang China yang ada di Indonesia memang sudah terkenal sebagai jagoan dagang.

                Selepas SMA pada 1953, Bob memulai karirnya sebagai pekerja di Unilever. Beberapa tahun bekerja di sana, Bob ikut-ikutan temannya melanjutkan kuliah. Pilihannya adalah Fakultas Hukum Universitas Indonesia, karena kala itu tempat kuliah masih terbatas. Tapi karena tidak betah, Bob hanya bertahan beberapa bulan saja di FH UI. Dia merasa bangku kuliah bukan tempat yang cocok sehingga berhenti dan bekerja kembali. Setelah bertahun-tahun di Unilever, Bob memutuskan untuk memperbaiki karirnya dengan pindah kerja ke McLain and Watson Coy (Djakarta Llyod), sebuah perusahaan pelayaran dan ekspedisi. Pekerjaan di tempat barunya megharuskan Bob berkelana ke mancanegara khusus di Eropa. Dua kota yang paling lama ditinggalinya adalah Amsterdam dan Hamburg. Di sana Bob menghabiskan waktu sampai 9 tahun. Lalu, ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta pada 1967, setelah bosan terus menerus menjadi bawahan. Bob kemudian pulang ke Indonesia dan menikah dengan Soelami Soejoed. Dia hanya membawa oleh-oleh dua Mercedes sebagai hasil jerih payahnya selama bertahun-tahun di Eropa. Stu dia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, sedangkan satu lagi dijadikan taksi gelap.

                Belum genap setahun, taksinya tertabrak  dan ia tidak bisa memperbaikinya karena kekurangan dana. Bob kemudian mulai menjalani profesi sebagai tukang bangunan walaupun belum punya keahlian di bidang itu. Setiap Minggu ia mendapatkan upah Rp100 dari pekerjaan itu. Kondisi Bob Sadino terdengar juga oleh sejumlah kawannya. Mereka ikut prihatin melihat nasib yang berbeda yang dialami Bob setelah memutuskan berhenti bekerja. Pada awal 1970-an, datanglah pertolongan itu. Seorang kawan Bob, Sri Mulyono Herlambang menyarankan agar ia beternak ayam saja, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bob pun setuju. Maka mulailah Bob beternaka ayam yang bibitnya ia peroleh dari sahabatnya itu sebanyak 50 ekor. Bibit ayam itu langsung didatangkan dari Belanda. Bob kemudian belajar beternak dari berbagai sumber bacaan.

                Dari situlah Bob berkeyakinan belajar tidak harus di bangku sekolah, karena ia membuktikan bisa belajar dari manapun dan dari siapapun. Beberapa tahun kemudian Bob pun mulai menuai kesuksesan dengan memiliki supermarket Kem Chicks, dan menjadi Dirut dari berbagai macam perusahaan, seperti:
- PT Boga Catur Rata (bidang retail)
- PT Kem Foods (pabrik sosis dan ham)
- PT Kem Farms (pabrik pengoalh sayur)
- PT Lambung Andal
- PT Andal Citra Promotion
- PT Kemang Nusantara Travel


Sumber :
Mawardi,Dodi. 2008. Belajar Goblok dari Bob Sadino. Jakarta: Kintamani Publishing.       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar