Anda tentu tahu salah satu
wirausahawan sukses di Indonesia ini. Bob Sadino, ia dilahirkan di Tanjung
Karang Lampung pada tanggal 9 Maret 1933 dari pasangan orang Jawa yang hijrah
ke Sumatera dengan nama lengkap Bambang Mustari Sadino. Pada tahun 1934 ia
harus mengikuti orang tuanya pindah ke Jakarta. Bapaknya, Sadino adalah seorang
guru dan kemudian menjadi kepala sekolah. Bob kecil hidup dalam kecukupan,
tidak seperti bocah Hindia Belanda kebanyakan yang kurang makan dan kurang
kasih sayang. Sejak kecil itu lah, Bob Sadino sudah bergaul dengan anak-anak
keturunan China. Pada zaman penjajahan Belanda, orang China yang ada di
Indonesia memang sudah terkenal sebagai jagoan dagang.
Selepas SMA pada 1953, Bob
memulai karirnya sebagai pekerja di Unilever. Beberapa tahun bekerja di sana,
Bob ikut-ikutan temannya melanjutkan kuliah. Pilihannya adalah Fakultas Hukum
Universitas Indonesia, karena kala itu tempat kuliah masih terbatas. Tapi
karena tidak betah, Bob hanya bertahan beberapa bulan saja di FH UI. Dia merasa
bangku kuliah bukan tempat yang cocok sehingga berhenti dan bekerja kembali.
Setelah bertahun-tahun di Unilever, Bob memutuskan untuk memperbaiki karirnya
dengan pindah kerja ke McLain and Watson Coy (Djakarta Llyod), sebuah
perusahaan pelayaran dan ekspedisi. Pekerjaan di tempat barunya megharuskan Bob
berkelana ke mancanegara khusus di Eropa. Dua kota yang paling lama
ditinggalinya adalah Amsterdam dan Hamburg. Di sana Bob menghabiskan waktu
sampai 9 tahun. Lalu, ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta pada 1967, setelah
bosan terus menerus menjadi bawahan. Bob kemudian pulang ke Indonesia dan
menikah dengan Soelami Soejoed. Dia hanya membawa oleh-oleh dua Mercedes
sebagai hasil jerih payahnya selama bertahun-tahun di Eropa. Stu dia jual untuk
membeli sebidang tanah di Kemang, sedangkan satu lagi dijadikan taksi gelap.
Belum genap setahun, taksinya
tertabrak dan ia tidak bisa
memperbaikinya karena kekurangan dana. Bob kemudian mulai menjalani profesi
sebagai tukang bangunan walaupun belum punya keahlian di bidang itu. Setiap
Minggu ia mendapatkan upah Rp100 dari pekerjaan itu. Kondisi Bob Sadino
terdengar juga oleh sejumlah kawannya. Mereka ikut prihatin melihat nasib yang
berbeda yang dialami Bob setelah memutuskan berhenti bekerja. Pada awal 1970-an,
datanglah pertolongan itu. Seorang kawan Bob, Sri Mulyono Herlambang
menyarankan agar ia beternak ayam saja, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bob pun
setuju. Maka mulailah Bob beternaka ayam yang bibitnya ia peroleh dari
sahabatnya itu sebanyak 50 ekor. Bibit ayam itu langsung didatangkan dari
Belanda. Bob kemudian belajar beternak dari berbagai sumber bacaan.
Dari situlah Bob berkeyakinan
belajar tidak harus di bangku sekolah, karena ia membuktikan bisa belajar dari
manapun dan dari siapapun. Beberapa tahun kemudian Bob pun mulai menuai
kesuksesan dengan memiliki supermarket Kem Chicks, dan menjadi Dirut dari
berbagai macam perusahaan, seperti:
- PT Boga
Catur Rata (bidang retail)
- PT Kem Foods
(pabrik sosis dan ham)
- PT Kem Farms
(pabrik pengoalh sayur)
- PT Lambung
Andal
- PT Andal
Citra Promotion
- PT Kemang
Nusantara Travel
Sumber :
Mawardi,Dodi.
2008. Belajar Goblok dari Bob Sadino.
Jakarta: Kintamani Publishing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar